Rabu, 13 Januari 2016

Apa Salahnya Jadi Sales Force

 Fulan, baru lulus dari perguruan tinggi
ternama dengan predikat terbaik. Berniat
merantau ke kota dan ingin sukses. Secara
kebetulan dia bertemu dengan seorang
pimpinan perusahaan besar , dan bercerita
tentang keinginannya mencari pekerjaan. 
Melihat resume nilai dari perguruan tinggi,
pendek kata di Bos sepakat untuk
mempekerjakan Si Fulan. Gaji yang sangat
menggiurkan dan fasilitas yang disediakan
sangat wah, ruangan ber AC plus peralatan
kerja lengkap dan mobil mewah sebagai kendaraan dinasnya. Tentu saja tanpa
banyak bertanya si Fulan menerima
penawaran ini. “Besok, datang tepat jam 8 pagi, dengan jas
lengkap dengan dasinya.” kata Si Bos sambil
memberi uang secukupnya untuk membeli jas
dan dasi. Esok paginya si Fulan datang sebelum jam 8
pagi. ” Wah, rajin sekali kau Fulan,” kata si
Bos. Fulan tersenyum bangga. “Apa pekerjaan saya, Pak?” kata si Fulan ” Kamu saya angkat jadi Direktur
Pemasaran,” kata si Bos Si Fulan tersenyum puas… Dan segera
menempati ruang kerjanya yang dingin dan
nyaman. Belum lama menikmati ruangannya,
tiba-tiba pintunya di ketok. Rupanya Manager Marketing yang datang,
setelah berbasa-basi, Pak Manager segera
menyampaikan permasalahannya. ” Begini, Pak. Semua customer kita complain
dengan barang kita yang terakhir datang.
Mereka ingin membatalkan seluruh order,
tapi rasanya tidak mungkin, perusahaan kita
bisa colaps kalau begini pak, Bagaimana
solusinya??” Kata Pak Manager. Tentu saja permasalahan yang begitu tidak
didapat bangku kuliah. Fulan bimbang, dan
belum dapat memutuskan apapun. Belum
lama setelah manager marketing keluar,
datang Manager Service, dengan
permasalahan yang lain. Lagi-lagi si Fulan tidak dapat memutuskan, karena masalah-
masalah teknis seperti itu tidak di dapat di
bangku kuliah. Begitu seterusnya, hingga
waktu pulang tiba, banyak permasalahan
yang belum bahkan tidak dapat di putuskan. Sore harinya, si Bos bertanya tentang
pekerjaan Fulan, kata Fulan,” Maaf Bos,
saya belum bisa menjabat sebagai Direktur,
saya kan baru lulus.” Akhirnya si Bos memerintahkan si Fulan
pulang dan datang esok hari dengan memakai
pakaian formal tanpa jas. Si Fulan pun
setuju. Keesokan harinya… “Kamu sekarang jadi Manager Publik
Relation,” Kata si Bos. Si Fulan pun setuju. Ternyata, kurang lebih sama dengan ketika
menjabat sebagai direktur. Kali ini para
supervisor yang mengemukakan
permasalahan teknis, yang hampir tidak di
sentuh di bangku kuliah. Hingga sore haripun
tiba. Saat si Bos menanyakan pekerjaannya si Fulan pun, meminta tidak menjabat
manager dulu. Akhirnya, si Bos mendaulat
dia untuk menjabat menjadi Supervisor
dengan fasilitas yang dikurangi. Si Fulan
pun setuju. Ternyata menjadi supervisor pun tidak
semudah yang dia banyangkan… Karena
banyak ilmu di bangku kuliah yang langsung
bisa diterapkan. Sore hari ditanya si Bos,
Fulan minta pekerjaan yang lebih ringan. Ok… kata si Bos. Besok kamu datang, kamu
naik angkot saja karena semua fasilitas saya
tarik. si Fulan setuju. Esok harinya,
bertemu dengan si Bos, fulan bertanya, apa
pekerjaan dia? Kata si Bos,”Kamu jadi Sales !” Si Fulan marah-marah, “Saya ini lulusan
terbaik di universitas, kok saya jadi
sales??!” Si Fulan langsung pergi meninggalkan si Bos
yang terbengong-bengong kebingungan.
Sampai di luar… Fulan bingung mau kemana. Apa salahnya kerja jadi Sales? Saya juga
mulai dari sales dan banyak sekali yang saya
dapatkan dari bidang pekerjaan ini. (untuk yang membenci pekerjaan sales) Jika Anda tersentuh dengan renungan di
atas, tolong “share” renungan ini ke teman-
teman yang lain agar mereka juga dapat
memetik hikmah yang ada pada cerita di
atas. Semoga dapat bermanfaat bagi
kehidupan kita, terimakasih. ( Sumber : ekojuli.wordpress.com )

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentarlah dengan bijak